Cita-cita dan Kebiasaan

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

2f814ae

Saat mencari jati diri, kita sering kali dihadapkan kepada pertanyaan yang bahkan kita pun harus sejenak berfikir, karena “niatan” itu penting, tidak hanya sekedar menjalani, tanpa adanya strategi. Atau, kita hanya melakukan sesuatu yang hanya akan buang-buang waktu, dan berakhir dengan penyesalan. Berhentilah melangkah sejenak, dan berfikir atas tujuan ribuan langkah ke depan.

Janganlah, melangkah tanpa arah, dan baru sadar akan tujuan yang salah saat ribuan langkah dan terlambat.

kita disini untuk apa?
kita sekolah/bekerja disini untuk apa?
kita pindah kesini untuk apa?
kita belajar ini untuk apa?
kita nanti akan kemana, dengan siapa, untuk apa, mengerjakan apa, dlsb?

Untuk masuk ke dalam society (bekerja/ mencari penghasilan) dan melakukan rutinitas selain studi, kita perlu menempatkan diri untuk mengenali diri sendiri dahulu, dan akhirnya mencari tempat yang sesuai dengan itu.

apa passion kita?
apa kegemaran/hobby kita? -yg jika dikerjakan setiap hari, tidak bosan/bukan bebanapa yang kita ingin kerjakan di masa depan?
apa cita-cita kita?
apa yang kita bisa?

Untuk menjawab itu, sering kali membuktikan kesungguhan “cita-cita” adalah dengan “kebiasaan”. Jika kita biasa melakukan sesuatu, berarti kita senang dengan hal itu, dan cita-cita tak jauh darinya. Dengan kata lain, jika kita ber-cita-cita, maka kita akan termotivasi untuk selalu mengimpikannya, mendekatinya, jatuh bangun, dan berusaha membiasakan diri dengan perjuangan, demi meraihnya.

apa yang sering kita lakukan akan mengantarkan ke cita-cita?
apa yang dibutuhkan agar dapat meraih cita-cita?

Of course, tanpa kesungguhan kita akan kesulitan untuk menjaga diri untuk membiasakan diri mengingat dan berusaha meraih cita-cita.

Dengan cita-cita yang besar, maka diri kita secara tidak langsung akan ‘tertekan’ untuk lebih berusaha melewati rintangan, berusaha melintasinya walau susah, menjauhi segala yang tidak mendekatkannya pada cita-citanya, rela menahan diri, rela hidup lebih susah dibanding orang lain.

Karena sadar akan rasa ‘manis’nya jika ia bisa meraih cita-citanya itu, semua kesusahannya akan terbayarkan. Bersusah susah kehulu, bersenang senang kemudian.
Manisnya permen terasa lebih nikmat, saat sering menelan pahitnya jamu.
Keindahan pemandangan puncak gunung Everest, hanya akan dinikmati hanya oleh seorang pendaki dengan ribuan langkah curam kaki di seluruh penjuru gunungnya. Setelah di puncak, kepuasan diri nya atas pendakian, mungkin terlalu besar. Hingga sekian menit saja di puncak, membuatnya lupa akan kesusahan pendakiannya yang berminggu-minggu lamanya.

Jadilah orang yang memiliki cita-cita. Karena tanpa cita-cita kita hanya akan menjalani hidup tanpa target, tanpa tujuan yang jelas. Walaupun takdir semua ada di tangan Tuhan, tapi kita tetap harus berusaha untuk mendapatkan takdir baik, dengan banyak berusaha dan bercita-cita. Dan pada akhirnya baru kita semua pasrahkan kepada Tuhan.

Tak ada milliader di dunia ini tanpa bekerja
Tak ada atlet olimpiade dunia tanpa latihan
Tak ada peraih cita-cita tanpa keringat dan luka

Mudah-mudahan kita termasuk kepada barisan orang orang yang bercita-cita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s